Wednesday, December 23, 2009

Si "Ndableg"


H1N1 (gambar diambil dari sini)

"Berjuang!"
"Jangan menyerah!"
"Ayo Asriiii... kamu bisa!"
"Kalau kali ini gagal ya coba lagi sampai bisa..."

Itulah kata-kata yang sering kuucapkan untukku sendiri.
Sahabat-sahabatku, dan keluargaku pasti tahu kalau aku ini cukup keras kepala, alias “ndableg” dalam Bahasa Jawa. Selain ndableg, aku ini juga paling sering sakit di keluarga. Sakitnya aneh-aneh pula: mulai dari sering semaput, pingsan saat masih SMP dan saat kelas 3 SMA – yang kata dokter akibat hipotensi postural, sakit dada, sakit cacar saat umur 21 tahun, diopname karena Rubella saat berumur 22 tahun, migren berkepanjangan, gangguan ginjal saat umur 23 tahun (dan belakangan baru tahu kalau itu akibat mengkonsumsi obat-obat keras saat kena cacar dan rubella), trachea bronchitis selama tinggal di Aceh, dan mungkin yang paling ngeri adalah didiagnosa kena myocardiac infraction (MI) alias serangan jantung menjelang ulang tahunku yang ke-29.

Tapi… hohoho… ternyata MI (yang belakangan diragukan diagnosanya oleh dokter lain di sebuat RS ternama di Semarang) itu belum apa-apa, Oktober tahun ini aku didiagnosa terkena pericardisis – peradangan dinding jantung. Belum sembuh dari pericarditis, aku juga terinfeksi H1N1, alias terkena Swine Flu, atau yang beken di media Indonesia sebagai flu babi!

Hampir tiga minggu aku terkapar di tempat tidur, kehilangan 4 kilogram berat badanku, dan total tagihan rumah sakit plus dokter plus biaya-biaya periksa – termasuk periksa EKG, tes darah dan rontgen, mencapai lebih dari $ 4,800. Untung hampir semuanya ditanggung asuransi. Kalau ngga, mungkin aku lebih sakit lagi… hehehe.. Minggu-minggu di bulan Oktober dan November adalah minggu-minggu penting dalam kehidupan mahasiswa di sini. Kenapa? Karena kita mulai dihajar ujian mid semester dan tumpukan tugas akhir yang bertubi-tubi. Sebagai mahasiswa pasca sarjana di jurusan komunikasi, aku dituntut untuk banyak menulis dan melakukan presentasi. Semester Musim Gugur 2009 ini adalah semester terberat. Banyaaaaaakk banget tugas menulis!

Kalau kuhitung-hitung semester ini rasanya aku sudah memproduksi lebih dari 300 halaman. Bayangkan saja, untuk satu kelas aku harus menulis memo mingguan (cuma 1 halaman, gampang…, 12 kelas x 1 = 12), 4 essay (masing-masing 3 – 5 halaman, aku selalu menulis 5 halaman karena kebanyakan ide…, maka 4x5 = 20), 1 mid-term essay (8 halaman), 1 handout presentasi (5 halaman), 1 research paper (25 halaman), dan 1 final paper (8 halaman). Itu baru untuk SATU kelas. Untuk menulis dengan baik, kita perlu mempelajari bahan-bahan bacaan yang ditugaskan. Rata-rata panjang bacaan untuk satu kelas PER MINGGU adalah 100 sampai 150 halaman. Dan, semester ini aku ambil 4 kelas… Kalikan saja jumlah bacaannya, belum lagi tugas-tugasnya. Jadi, siapa bilang kuliah di sini isinya seneng-seneng doang? :)

Bagaimana cara menyiasatinya? Buatku ngga ada cara lain selain membaca non-stop, dan Jumat-Sabtu-Minggu biasanya adalah hari bikin PR. Jam tidurku berantakan. Aku selalu tidur di atas jam 4 pagi, bangun sekitar jam 10 pagi dan kerja lagi. Beberapa orang yang ngga pengertian menyebutku sombong karena aku jarang ikut kumpul-kumpul atau selalu susah dihubungi. Gimana mau ikut kumpul-kumpul kalau hari Sabtu – Minggu aja aku masih tidur jam 4 pagi demi tugas kuliahku? Gimana mau ngga susah ditelpon kalau seringkali aku belajar di perpustakaan dan HPku dalam silent mode?

Ada juga yang tanya: katanya belajar, kok FBnya aktif terus sih? Lha justru itu, karena aku ngadepin laptop sehari semalam, FB dan email-lah yang jadi sarana komunikasi dan hiburan utamaku. Statusku selalu update, dan selalu ada wallpost – tapi aku memang jarang ngebalas email. Pernah juga ada yang komentar di status FB-ku: “kebiasaan kebut semalam kaya di Indonesia ya?” – Hm, sebenernya pengen marah aja ke orang itu, ngga tau gimana aku kerja keras kok enak aja ngomong begitu. Karena marah ngga ada gunanya, mending energi marahnya dilampiaskan ke paperku aja…. Ciaaattttt – ciaattt – ciattttt!!! (eh, salah, harusnya ngelus dada, dan bilang, “sabar Asri, sabaaaaarrrr….”)

Nah, dengan ritme kejar tayang non-stop seperti itu, kebayang kan kalau pake sakit segala? Sebelum terdiagnosa pericarditis aku masih sibuk nyiapin research paper untuk kelas Interpersonal Communication. Wuih, aku semangat banget ngerjainnya, karena aku berniat ngenalin unggah-ungguh basa Jawa ke profesorku, sekaligus faktor spiritual di balik praktek budaya kita. Tiba-tiba “deg”. Dadaku sakit banget. Aku ingat, waktu itu sekitar jam 3 pagi dan aku lagi membungkuk untuk ngidupin pemanas ruangan. Dua hari berikutnya sakit itu datang dan pergi. Hari ketiga aku ngga tahan lagi. Sakitnya menusuk-nusuk sampai satu jam lebih dan aku kesulitan bernafas. Setelah reda aku menelfon mbak Titi, pahlawan penyelamatku di Albany. Secepatnya mbak Titi, bang Taufik dan Uda Fitri memutuskan untuk melarikan, eh membawaku ke Ruang Gawat Darurat di RS St. Peter. Anibal menyusul, naik sepeda dari rumahnya, padahal hari itu suhu sudah di bawah 10*C. Heroik dan romantis deh! :))

Dasar aku ini si ndableg, malam itu aku nangisnya lebih karena sebel, bukan karena sakit. Aku sebel banget karena harus pake sakit seperti itu di saat lagi banyak banget kerjaan. Aku juga sedih karena merasa masih muda (yeaaaahh…) tapi kok ngga sehat. Di mobil Uda Fitri, dalam perjalanan ke RS aku nangis lagi karena beliau memutar lagu-lagu Opick yang bikin aku terharu. Di RGD ternyata ada unit khusus untuk kedaruratan stroke dan penyakit jantung. Isinya opa-opa dan oma-oma… dan aku adalah pasien termuda. Proses pemeriksaannya banyak dan lamaaaaaa… banget. Bang Taufik, Mbak Titi, dan Uda meninggalkan RS sekitar jam 2 pagi.

Jam 4 pagi dokter datang dengan wajah capek. Katanya, EKG-ku normal tapi tes darahku menunjukkan kalau cardio enzyme-ku positif (kata pak dokter kiyut itu, cardio enzyme adalah enzim yang diproduksi jantung saat ada kerusakan jaringan di sana). Duh. Nangis lagi deh. Tapi dikit kok.. haha… kali ini karena kesel, berharap pengen buruan pulang dan tidur nyenyak, tapi disuruh tinggal lebih lama di UGD untuk pemeriksaan lanjutan. Jam 9 pagi pak dokter datang lagi. Hasilnya, cardio enzyme-ku tetep positif. Berarti memang ada gangguan jantung. Beliau bilang aku diduga kena pericarditis. Sejak hari itu selama sebulan pertama aku harus bertemu spesialis jantung seminggu sekali.

Apakah aku beristirahat? Tidak. Sabtu, jam 10 pagi itu aku “dilepas” dari UGD. Setelah tidur sesiangan, sorenya aku ikut dinner ulang tahun Anibal. Setelah dinner, aku berangkat ke kampus bareng Gloria dan Charlie, menghadiri pidato Jenderal Colin Powell. Dua acara itu sudah kurencanakan sebulan sebelumnya. Malamnya aku begadang lagi, ngerjain research paperku yang 25 halaman itu, yang harus dikumpulkan hari Selasa… Mungkin banyak yang sebel membaca paragraf ini. Tapi begitulah caraku menghadapi penyakit-penyakitku. Aku ngga suka merasa lemah dan aku ngga suka merasa sedih. Saat SMA dulu aku sampai diwanti-wanti Wingit, teman sebangku kesayanganku, untuk ngga nahan-nahan sakit dan buruan ke UKS sebelum pingsan di depan kelas.

Hari Senin – Selasa aku berangkat kuliah. Rabu aku demam tinggi, tapi tetep maksain belajar untuk ujian hari Kamisnya. Di buku metodologi riset itu aku menulis catatan, “jangan sakit Asri…” Untung Kamis aku merasa mendingan dan melalui ujianku dengan baik, Jumat aku ke Schenectady yang satu jam dari Albany untuk nonton Shaolin Kungfu, dan demam tinggi lagi malam harinya. Sabtu sendi-sendiku ngilu, mual, demam dan sakit tenggorokan sampai nyaris ngga bisa bangun dari tempat tidur. Aku benar-benar hampir K.O. sampai tak sanggup lagi berangkat kuliah. Aku juga batuk tak henti-henti. Sakit dadaku jadi berlipat ganda deh. Rabu aku ke pusat kesehatan Universitas, dan setelah serangkaian pemeriksaan dokter bilang kalau aku POSITIF TERINFEKSI H1N1.

Aku bengong. Jadi ternyata sakitku parah ya? Untung hasil X-ray menunjukkan kalau aku tidak menderita radang paru. Tapiiii… hasil X-ray itu juga menunjukkan kalo trachea bronchitisku kambuh lagi. Waduh. Ngga tanggung-tanggung, dokter menulis surat keterangan yang ditujukan untuk DEKAN Pasca Sarjana di Universitasku, meminta untuk menyampaikan pesan kepada para profesorku, bahwa aku perlu setidaknya 17 hari istirahat, untuk mengurangi kemungkinan penularan virus jahat itu ke teman-teman dan orang-orang di kampus. Aku juga diharuskan mengkarantina diri di kamar, mengurangi kontak dengan keluarga atau teman-teman serumahku. Negara bagian New York memang sudah memberlakukan keadaan darurat epidemic Swine Flu, segera setelah Presiden Obama mengumumkan darurat nasional. Sebetulnya dalam keadaan darurat itu surat keterangan dokter tidak diperlukan. Pokoknya, selama kita merasa terserang flu, kita dianjurkan untuk tinggal di rumah dan mengurangi kontak dengan orang lain. Dengan pengobatan yang benar, banyak minum, istirahat yang cukup dan nutrisi yang baik sebetulnya Swine Flu bisa disembuhkan. Tapi kasusku agak beda. Tubuhku harus berjuang ekstra keras melawan virus H1N1, sekaligus virus yang menyebabkan peradangan di jantungku sekaligus....

Akhirnya, si ndableg ini menyerah. Berhari-hari aku terbaring di kamar. Aku benar-benar merasakan beratnya penyakit ini… minggu pertama terkena Swine Flu itu aku sering berhalusinasi karena demam tinggi. Sendi-sendiku ngilu sampai untuk beranjak ke kamar mandi aja beratnya bukan main. Suatu siang, saat tubuh ini terasa sakit dan lemah sekali, aku berbisik, “kula sampun siap menawi Gusti badhe mundhut sak menika…”. Ini adalah sakit terberat yag pernah kualami. Aku menyerah. Tumpukan buku dan artikel yang harus kubaca kubiarkan terserak di meja belajar. Aku tak mau menyentuhnya. Rasanya baru kali itu aku tidak keras kepala.Aku cuma mau sehat lagi.

Saat merasa sangat lemah itu aku baru sadar aku telah banyak memaksa diri. Membawa tubuhku yang masih perlu istirahat ini melampaui batas-batas kesanggupan. Aku baru sadar bahwa aku sangat kurang tidur. Aku baru merasa sangat lelah. Otakku penuh simpang siur analisa teori komunikasi, deadline tugas dan ide-ide disertasi. Aku lupa memikirkan apa yang sebenarnya membuatku bahagia. Di saat yang sama, ada rasa damai yang menyenangkan: aku pasrah dan menerima. Aku sadar, satu setengah tahun di sini telah memberiku banyak ujian kesabaran, dan aku baru tersadar, bahwa aku telah menjadi jauhhhhh…lebih sabar dan tenang menghadapi masalah-masalahku. Perasaan itu sangat indah.

Profesor-profesorku rajin mengirim email, menanyakan keadaanku dan berpesan bahwa aku tak perlu memikirkan kuliahku. “Pikirkan kesehatanmu dulu. Setelah kamu sembuh kita bisa membahas hal-hal lainnya”. Anibal rajin menjenguk dan membawakan makanan kesukaanku (meski ujung-ujungnya dia juga yang ngabisin.. hehehe..). Teman-teman serumahku rajin menawariku teh hangat dan menyemprotkan Lysol di sekitar rumah. Aku bersyukur memiliki mereka di sekitarku, dan aku lebih bersyukur lagi karena mereka tidak tertular penyakitku…

Di minggu kedua aku memutuskan menghentikan obat-obatan dari para dokterku. Obat-obatan penghilang rasa sakitku memiliki kandungan narkotika dan batukku tak kunjung reda. Yang ada aku merasa seperti zombie, berkepala kosong, merasa melayang dan tak terkoneksi dengan apapun di sekitarku. Aku memutuskan beralih ke obat-obatan organic, yang alhamdulillah bisa kutemukan di Coops dekat rumahku. Aku berangsur sembuh. Minggu ketiga Karen, teman serumahku membawaku ke pantai di Long Beach City di Long Island. Katanya, “udara laut akan bikin kamu cepet sembuh!”.

Aku kehilangan 4.5 kilogram dalam 3 minggu itu. Berat badanku semula 46.5 kilo. Di kunjungan terakhir ke dokter sebelum aku masuk kuliah lagi beratku tinggal 42 kilo. Mukaku lebih tirus, mataku cekung, rambutku rontok dan tak mengembang. Teman-teman sekelasku yang tak terlalu akrab, yang telah mendengar apa yang kualami takut-takut berdekatan denganku. Mereka bertanya apakah H1N1 telah pergi dari tubuhku. Dua profesorku memelukku saat melihatku kembali ke kelas. Aku kembali tersadar bahwa sekali lagi aku mengalami peristiwa besar di hidupku. Aku berhasil melewati masa kritis Swine Flu.

Saat itu aku sudah ketinggalan banyak pelajaran, dan bahkan aku tak mau lagi membahas berapa essay yang kulewatkan. Awal Desember aku mulai mati-matian mengejar ketinggalanku. Berhari-hari aku cuma tidur 3-4 jam setiap harinya demi menyelesaikan tugasku. Ternyata susah juga menulis essay tanpa mengikuti pembahasan di kelas…. Aku pun kembali menjadi si ndableg pekerja keras. Aku semakin sadar kalau aku ini pejuang yang serius. Saat dunia bilang aku cukup memberi 100, aku akan memberi minimal 110. Sederhana: karena aku merasa senang melakukan itu.

Ngomong-ngomong, orang Amrik mungkin tak akan menyebut sikap ndablegku ini sebagai stubbornness, tapi lebih sebagai persistence dan self-determination: keuletan dan kemauan yang keras. Sikap ndablegku inilah yang jadi salah satu amunisi penting untuk perjuangan hidupku. Sejak bapak meninggal 18 tahun yang lalu, rasanya ndableg-ness inilah yang membantuku untuk melewati segala hambatan, rintangan dan tantangan hidup dan mewujudkan mimpi-mimpi yang rasanya ngga mungkin dicapai pada saat itu. Ibuku sampai sering menasehatiku agar tidak terlalu sering “nglangak” (menengadah), karena mimpiku sering aneh-aneh dan terlalu besar untuk ukuran status sosial – ekonomi kami.

Tapi kupikir Ibuku tak perlu terlalu khawatir. Si ndableg ini sudah belajar tentang batas-batas toleransi kendablegan. Dan, batas terbesarku adalah diriku, kesehatanku, dan kesadaranku sendiri…


*terimakasih buat sahabat-sahabat baikku....

Monday, August 17, 2009

Cerita dari Padang Eucalyptus

Dua hari yang lalu aku mengirimkan tulisanku ke Kompasiana. Tulisan berjudul Cerita dari Padang Eucalyptus itu adalah catatan kecilku tentang makna kemerdekaan bagi warga eks pengungsi Timor Timur di desa Manusak dan Raknamo, Kupang, NTT. Dua desa itu adalah tempat terakhirku bekerja sebelum aku berangkat ke Albany.

Berikut catatan perjalanku dari Manusak dan Raknamo....

Lima hari menjelang ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2008.
Kami menyusuri jalan raya di Kupang, melewati daerah-daerah bekas tempat tinggal sementara pengungsi eks Timor-Timur, deretan lahan pertanian, lalu berbelok ke sebuah jalan sempit menuju desa Manusak. Semakin jauh kami meninggalkan jalan utama, semakin aku melihat bahwa tak banyak yang bisa tumbuh di sana. Pohon-pohon pisang, jagung dan singkong tampak kerdil bila dibandingkan pohon pisang, jagung dan singkong di tanah Jawa, Bali dan Sumatra.

Rerumputan meranggas. Kuning atau kecoklatan, seolah musim kemarau telah terlalu lama mendera. Anak-anak kecil berlarian di bahu jalan. Kulitnya hitam terpanggang matahari, rambutnya yang ikal memerah, kaki-kakinya telanjang tersaput debu. Mataku tak bisa lepas dari pemandangan di luar mobil ber-AC-ku, dan telingaku mendengar penjelasan-penjelasan kecil dari teman-temanku.
“Sumur ini sudah rusak pompa airnya.”
“Mereka panen setahun sekali.”
“Sulit sekali mencari air di sini…”


Anak-anak ini mengikuti rombongan tim survey Rainbow Community,
mendaki bukit-bukit yang mengelilingi desa, bertelanjang kaki

Bila saat menuliskan cerita ini kembali mataku panas dan berkaca-kaca, saat itu tak ada rasa lain di hatiku selain merasa berdosa. Berdosa sebagai perempuan yang sudah terlalu beruntung, lahir di tanah yang ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi, mengaku cinta Indonesia namun tak pernah benar-benar tahu bagaimana wajah Indonesia seutuhnya. Aku melewatkan masa kecilku di tahun '80-an, di sebuah desa kecil di Kabupaten Banyumas, di kaki gunung Slamet yang dikelilingi sawah-sawah subur yang dipanen setahun tiga kali. Aku merasakan nikmatnya nasi hangat pulen sehari tiga kali, dan kadang-kadang, saat kangen makan singkong Bapak akan memboncengku di belakang motor Suzuki FX warna hitamnya ke sebuat warung yang khusus berjualan singkong segar di sudut jembatan Kali Pelus. Di seberang jalan raya, di dekat lapangan Sriwijaya ada sebuah pabrik tapioca yang sudah ada di situ sejak jaman penjajahan Belanda, di mana temanku Paryati bekerja menguliti singkong dengan sebilah golok besar sepulang sekolah.

Di pasar Sokaraja, grontol jagung dan gethuk adalah makanan kecil. Buat kami, jagung dan singkong adalah pilihan menyenangkan di samping nasi. Sokaraja sendiri terkenal dengan gethuk goreng-nya. Semuanya adalah bukti bahwa produksi singkong melimpah ruah di samping produksi beras. Satu-satunya masa di mana aku dan keluargaku terpaksa makan beras jatah yang apek adalah saat krisis moneter di tahun 1998. Saat itu aku sudah merasa sangat sengsara.

Di pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kami menghapalkan (ya, ya, hafalan adalah ciri khas pendidikan Indonesia!) berbagai cerita tentang Indonesia. “Makanan pokok di Jawa adalah nasi, di Timor Timur jagung, dan di Irian Jaya sagu…” Ah. Bahkan mengingat itupun hatiku terasa terganggu. Di kurikulum 1984 nama Papua, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Makassar tak ada di dalam buku pelajaran. Papua adalah Irian Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam adalah Daerah Istimewa Aceh, dan Makassar adalah Ujung Pandang. Ketika nama asli pun tak lagi punya tempat di buku-buku pelajaran sekolah, ilmu pengetahuan macam apakah yang diajarkan?

Kembali ke cerita tentang makanan pokok, hampir semua guruku, yang lahir-besar-dan bersekolah di Jawa, tak pernah memberitahuku bahwa jagung di Timor sebagian besar tumbuh di lahan tandus. Kupikir semua kebun jagung tampak subur seperti kebun jagung yang kulihat di sebanjang rel kereta api menuju Kalibagor, atau semanis deretan kebun jagung di Wonosobo dan Temanggung. Kupikir seluruh Indonesia tampak seperti pulau Jawa. Hijau dan subur. Saat ini aku jadi ingin memprotes Koes Plus yang bilang bahwa di Nusantara “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Aku ingat beberapa guruku, yang mencontek retorik a la para penguasa Orde Baru, menceritakan tentang betapa suburnya Indonesia dengan mengutip lagu itu. Buat kami yang tak pernah melihat sisi lain Indonesia, cuma membaca buku dan melihat Berita Nasional jam 7 malam di TVRI yang seringkali diisi dengan berita tentang Bapak Presiden yang bersafari panen raya di mana-mana, tentu saja SELURUH Indonesia tampak sebagai tanah yang subur dan kaya raya.

Di Manusak, pohon-pohon eucalyptus raksasa memagari jalan. Tingginya menjulang, menggapai langit biru Timor yang selalu membuat mataku silau karena cerahnya. Aku yakin Eucalyptus itu sudah ratusan tahun umurnya, berdiri tegak jauh sebelum buku-buku wajib IPS untuk Sekolah Dasar di jamanku diterbitkan oleh Balai Pustaka. Eucalyptus adalah bukti vegetasi di tanah yang arid – kering dan tak subur. Berada di Manusak, aku merasa berada di sebidang tanah yang sebelum ini cuma kulihat di foto-foto yang menggambarkan tanah Afrika. Terlalu polos? Mungkin iya. Mungkin juga inilah buah pendidikan yang tak terlalu lebar membuka jendela dunia.


"Padang Eucalyptus" di sepanjang jalan menuju Manusak dan Raknamo

Manusak yang kami tuju adalah sebuah desa yang dijadikan sebagai perkampungan eks pengungsi Timor Timur. Berbatasan dengan Manusak adalah desa Raknamo. Di dua desa itu para eks pengungsi Timor Timur tinggal di pemukiman barunya.

Aku yakin teman-teman masih ingat, di tahun 1999 diadakan referendum di Timor Timur, di mana masyarakatnya memilih untuk merdeka atau tetap menjadi bagian dari Pemerintah Indonesia. Ratusan ribu masyarakat Timor Timur memilih untuk mengungsi ke Indonesia. Selain beberapa di antara mereka memilih untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia, banyak pula yang mengungsi ke wilayah Timor Barat atau NTT karena merasa tidak aman berada di sebuah Negara baru yang masih labil kondisi ekonomi dan keamanannya.

Aku tak sanggup membayangkan sedihnya meninggalkan kampung halaman dalam kondisi darurat seperti di tahun 1999. Tak hanya rumah, tanah pertanian, dan binatang ternak yang mereka tinggalkan, tapi juga cerita hidup dan ‘akar’ keberadaan mereka. Tercabut dari tanah kelahiran dan melajutkan kehidupan di tanah baru membuat hidup seperti terlumpuhkan sementara. Seperti halnya cerita klasik diaspora lainnya, mereka selalu mengenang tanah kelahirannya. Budayanya. Apa yang dulu mereka miliki dan apa yang mereka tinggalkan, dan cerita bahwa mereka ingin kembali lagi suatu saat nanti, ketika Timor Leste sudah menjadi Negara yang lebih ramah dan aman.

Bagiku, Manusak adalah ironi. Mereka memilih meninggalkan Timor demi kehidupan yang mereka pikir akan lebih baik. Namun lihat di mana mereka tinggal hari ini. Rumah-rumah sederhana berdinding pelepah lontar dibangun berjajar di lereng bukit tandus. Tanah yang cuma bisa ditanami singkong dan jagung yang kurus. Sumur-sumur yang dibangun beberapa lembaga swadaya masyarakat kering tak berair. Satu-satunya sumber air yang terus mengalirkan air adalah sebatang pipa PVC kecil yang terhubung dengan sebuah sumur di perumahan TNI.

Maria, gadis kecil ini setiap hari bertugas mencari air di sungai musiman ini.
Umurnya baru 6 tahun, dan dengan jerigen kecilnya dia mendaki bukit, mengantarkan air buat mamanya.
Seperti halnya sungai-sungai di Timor lainnya, sungai ini selalu banjir saat musim hujan, namun tak lagi berair sejak bulan Mei hingga November.

Anak-anak mereka bersekolah di sebuah sekolah dasar nun di puncak bukit. Sekolah itu dibangun oleh UNHCR, badan pengungsi PBB yang memiliki Angelina Jolie sebagai dutanya. Sekolah yang berdinding batang lontar, cuma terdiri dari tiga kelas berlantai tanah, dikelola oleh tiga orang istimewa: seorang Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan TU yang merangkap sebagai guru. Anak-anak kelas satu sampai kelas tiga belajar diatas terpal yang digelar di halaman sekolah yang berdebu, sementara kelas empat sampai kelas enam di dalam ruang kelas, karena jam pelajaran mereka lebih panjang. Sekolah itu tak punya sumur dan toilet, apalagi perpustakaan atau UKS. 150 siswa dari Manusak dan Raknamo bersekolah di sana. Aku tak tahu apakah mereka pernah mendengar tentang Angelina Jolie. Bila iya, mungkin mereka akan bingung dan sulit untuk percaya, bagaimana mungkin sekolah ini dibangun oleh sebuah lembaga yang mempekerjakan selebriti kaya raya yang punya rumah mewah di mana-mana?

Seorang siswa kelas empat bercerita, kalau mereka ingin ke belakang, mereka harus turun ke desa, berjalan menuruni bukit, 40 menit perjalanan jauhnya. Dan bila kebutuhan mendesak itu terjadi, biasanya mereka tak akan kembali lagi ke sekolah karena jauhnya. Bila hujan deras turun, bapa atau mama guru sering tak bisa datang karena rumah mereka jauh di balik bukit dan jalan yang mereka lalui berlumpur parah.

Hari itu, saat kami berkunjung Bapak Kepala Sekolah sedang mengikuti penataran di Kupang, seorang guru lainnya sakit, dan hanya ada satu orang mama guru yang terpaksa mengajar enam kelas sekaligus, 150 siswa. Kadang anak-anak pulang lebih awal karena mama guru terlalu lelah mengajar begitu banyak siswa. Aku tak habis pikir, berusaha memahami keputusan UNHCR untuk membangun sebuah sekolah dasar di tempat seperti itu. Bukankah sekolah seharusnya merupakan fasilitas yang terintegrasi dengan wilayah pemukiman? Bagaimana cara pikir mereka, mengetahui bahwa pendidikan di Sekolah Dasar adalah 6 tahun, dan memutuskan hanya membangun 3 ruang kelas? Sungguh, sangat sulit untuk tidak merasa marah dan kecewa…

Belakangan aku tahu bahwa untuk membangun pemukiman baru bagi para eks pengungsi itu, pemerintah daerah harus bernegosiasi dengan para pemimpin adat di wilayah yang dituju. Biasanya para pemimpin adat, raja-raja kecil itu akan memberikan tempat yang tak dihuni masyarakat asli. Dan tentu saja, tempat – tempat itu kebanyakan adalah wilayah paling tandus dari seluruh wilayah desa yang ada. Di situlah para penghuni baru memulai lagi kehidupannya.

Seandainya aku bagian dari mereka, akankah aku merasa dikhianati? Dikhianati oleh kepercayaanku, bahwa Indonesia, dan masyarakat Indonesia akan memperlakukanku dengan lebih baik daripada para penguasa baru dan milisia di tanah kelahiranku? Akankah aku merasa bahagia, bahwa setidaknya aku memiliki KTP Indonesia, mengirimkan anakku ke sebuah sekolah dasar negeri yang mengajarkan Bahasa Indonesia, berharap dengan demikian suatu hari nanti anak-anakku akan memiliki masa depan yang lebih luas, seluas wilayah Indonesia?

Melihat anak-anak berseragam putih merah itu aku termenung. Seberapa jauh mereka akan meneruskan hidupnya? Letak Manusak cukup jauh dari jalan utama Kabupaten, jauh dari SMP terdekat, di mana mereka perlu naik angkutan umum atau punya kendaraan sendiri untuk bisa sampai ke sana. Dengan minimnya hasil panenan singkong dan jagung mereka, aku melihat masa depan terhenti di ujung jalan desa. Tak ada biaya untuk mengirimkan anak-anak manis ini ke sekolah yang lebih tinggi. Selama di sana, tak satupun aku melihat sepeda. Setidaknya Lintang di Laskar Pelangi masih bisa mengayuh sepedanya melintasi paya-paya. Bagaimana dengan anak-anak ini?

Merah-Putih berkibaran di perkampungan eks pengungsi


Bendera-bendera merah putih berjajar di jalan kampung yang berdebu. Anak-anak kecil yang berlarian mengikutiku lahir di wilayah NKRI. Dibuahi, tumbuh menjadi janin dan lair saat orangtua mereka masih berstatus pengungsi. Bicara dalam Bahasa Tetun, namun fasih menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghormat bendera. Untuk menyampaikan ungkapan terimakasih, bapa dan mama di sana mengajariku kata “abrigado”. Kata yang bukan Bahasa Tetun, pun bukan Bahasa Indonesia. Abrigado adalah kata dalam Bahasa Portugis untuk “terima kasih”. Cukuplah untuk menjelaskan, betapa panjang sudah perjalanan tertempuh sebagai warga negara suatu bangsa.

Bapa dan mama yang telah keriput dan beruban itu lahir saat Timor-Timur masih menjadi “milik” Portugis. Lalu di tahun 1976 mereka menjadi Warga Negara Indonesia. Hari ini pun mereka masih menjadi Warga Negara Indonesia, namun rasanya dengan makna yang berbeda. Beberapa ratus kilometer jauhnya, orang-orang di tanah kelahiran mereka telah menjadi warga Negara asing. Beberapa jengkal jauhnya, penduduk asli Manusak dan Raknamo, serta pemerintah Indonesia melihat dan memperlakukan mereka seperti orang asing.

Aku tak berani bertanya, apakah mereka mencintai Indonesia. Aku punya terlalu banyak alasan untuk mencintai negeriku karena aku telah mendapatkan begitu banyak keistimewaan, nun di belahan lain pulau di Indonesiaku. Namun mereka tak sepertiku. Alam yang keras dan berbagai gejolak politik memutarbalikkan nasib mereka sebagai warga suatu Negara. Melihat jauh dan berlikunya jalan yang mereka tempuh untuk tetap menjadi warga Negara Republik ini, aku tak berani untuk bertanya apakah mereka mencintai Indonesia.

Aku cuma bisa tergugu melihat deretan merah putih yang berkibar di kampung kecil itu. Apakah maknanya buat mereka?


Aku di bawah pohon Eucalyptus. Sebesar inilah kebanyakan pohon Eucalyptus di sana


Kapel kecil di jalan menuju SD Manusak/Raknamo.
Setiap hari Minggu Kapel sekecil dan sesederhana ini ini menampung lebih dari 200 keluarga pengungsi!


Kesederhanaan tak melunturkan kuatnya iman warga "pendatang baru" ini...

Lonceng gereja. Digantung di sebuah pohon di sisi kiri kapel...


Raknamo, dilihat dari bukit.
Dedaunan hijau yang tampak di belakang adalah pohon eucalyptus atau lontar



Anak-anak berambut ikal kemerahan ini sangat manis dan ramah :)



Agustus baru bermula, namun tanah di Manusak sudah sekering ini

tari Likurai, warisan budaya Tetun


Senyuman itu...


SD Manusak





*Terimakasih banyak untuk teman-temanku di CIS Timor dan Austcare, yang sudah mengajakku belajar lebih banyak tentang 'perjuangan' untuk menjadi bagian dari bangsa ini. Selamat, telah mengerjakan Rainbow Community Project sepanjang tahun 2008 - 2009 ini dan membangun SD Raknamo menjadi tempat yang lebih layak untuk belajar, membangun sumur yang menyediakan lebih banyak air dan balai pertemuan serta pelatihan pertanian dan keterampilan bagi warga Manusak dan Raknamo! :)*

Friday, July 17, 2009

Kami Tidak Takut!



Turut berduka cita untuk para korban bom Jakarta, 17 Juli 2009. Indonesia, bersatu!

Sunday, June 7, 2009

Fatwa Haram yang Ironis...

foto ini diambil dari www.naturemoms.com
Barusan saya membaca judul berita di MSN Indonesia tentang Fatwa Haram yang dikeluarkan oleh MUI untuk vaksin meningitis. Semula saya merasa skeptis membaca judul itu, mengingat hebohnya fatwa-fatwa haram yang baru-baru ini dikeluarkan, mulai dari fatwa haram untuk Facebook sampai fatwa haram pemakaian HP untuk berkomunikasi dengan lawan jenis. Suara di kepala saya sudah jelas berkata, "waduh, apa lagi nih alasan pengharaman ini?"

Pengharaman vaksin meningitis tentu saja terasa ironis, mengingat calon jamaah ibadah umroh dan haji diwajibkan mendapatkan vaksin tersebut sebelum mereka berangkat ke Arab Saudi - untuk tentu saja melaksanakan salah satu wujud ibadah dalam agama Islam. Pun, untuk para tenaga kerja yang akan berangkat ke sana, dan kami-kami yang akan belajar di Amerika Serikat juga wajib mendapatkan vaksin tersebut sebelum berangkat. Dengat teliti saya pun membaca artikel tersebut. Disebutkan bahwa vaksin meningitis itu haram karena mengandung enzim babi!

Rasa kecewa hampir saja tertumpah kepada perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin tersebut. Namun kekecewaan itu urung setelah saya membaca kelanjutan berita tersebut, dan berpikir. Ternyata, pemerintah Indonesia melalui departemen kesehatan bekerja sama dengan GSK, sebuah perusahaan farmasi Internasional untuk memasok vaksin tersebut. Bisa ditebak, vaksin meningitis di Indonesia paling banyak diperlukan oleh calon-calon "tamu Allah" yang akan berangkat ke tanah suci. Celakanya GSK mengaku bahwa mereka memang memakai enzim babi dalam tahap awal pembuatan vaksin tersebut!

Nah kalau begini ceritanya, saya jadi geregetan sama pemerintah Indonesia. Lha wong mie instan yang dijual bebas di pasaran saja harus melalui proses sertifikasi Halal oleh MUI, kenapa justru produk, yang sudah jelas-jelas diharapkan kehalalannya, karena dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah perjalanan ibadah, kok sampai lolos tanpa sertifikasi dan baru ketahuan sekarang?

Apalagi dengan keterangan dalam berita tersebut, bahwa pemerintah bekerja sama dengan GSK - yang terkesan sebagai kerjasama eksklusif, membuat saya berpikir, selayaknya MUI tak serta-merta menyatakan bahwa VAKSIN MENINGITIS haram, tapi akan jauh lebih baik bila MUI melakukan penelitian mendalam, melakukan perbandingan antara produk-produk vaksin dari perusahaan lain, siapa tahu (mohon maaf untuk keawaman saya terhadap bagaimana prosedur pengembangan vaksin), ada vaksin yang tak mengandung unsur haram. Dengan demikian akan Fatwa tersebut mungkin akan berbunyi, "VAKSIN MENINGITIS DARI PERUSAHAAN X dinyatakan haram". Rasanya itu akan lebih adil dan menjujung semangat khuznudzan - prasangka baik, dibanding dengan serta-merta memukul rata bahwa vaksin meningitis itu haram.

"Lucu"nya lagi, kenapa MUI tidak melayangkan keberatan terhadap Depkes yang sudah membuka jalan bagi vaksin berunsur babi itu? Yang lebih lucu lagi, karena haram, alih-alih mencari alternatif vaksin yang halal MUI sekarang malah akan melayangkan pertanyaan kepada pemerintah Saudi, kenapa jamaah yang akan berangkat ke Saudi diwajibkan untuk vaksin?

Waduuuhhh... kadang saya sampai bingung, kenapa ya, saya ngga bisa lagi menerima logika berpikir para pejabat dan tokoh agama di Indonesia. Kenapa itu langkah pertama yang dianggap perlu, sementara "anak kecil juga tahu", bahwa yang namanya vaksin itu perlu untuk melindungi diri kita dari ancaman penyakit yang paling mungkin muncul di suatu wilayah. Jadi menurut saya, semestinya bukan "kenapa perlu vaksin meningistis" lagi yang perlu dipertanyakan, tetapi, "kenapa Depkes memilih GSK" dan "adakah alternatif vaksin meningitis yang halal?" Bila jawabannya "tidak ada", pertanyaan selanjutnya adalah, "mungkinkah kita mengembangkan vaksin halal?"

Di bayangan naif saya, kalau saja semua perusahaan yang memproduksi vaksin meningitis saat ini memakai enzim babi, dan Indonesia bisa mengembangkan vaksin halalnya sendiri, kebayang berapa negera Islam, atau organisasi Islam yang dengan senang hati membeli produk kita. Keuntungan dari penjualan vaksin itu bisa dipakaii untuk perbaikan layanan kesehatan, biar masyarakat seperti bu Prita ngga perlu memilih dan bermasalah dengan rumah sakit "internasional" lagi, karena layanan di rumah sakit umum sudah ngga kalah bagusnya. Syukur-syukur, karena konsumennya dari negara Islam, sebagian keuntungannya bisa dipakai buat mensubsidi umat Islam Indonesia, biar semakin banyak yang mampu berhaji. Sekali lagi, ini bayangan naif lho... jadi yang indah-indahnya saja yang terlihat. Saya masih buta dengan prosedur lembaga kesehatan internasional untuk produksi suatu vaksin, pun prosedur perbaikan layanan kesehatan dan ibadah haji di Indonesia...

Ngomong-ngomong, saya jadi ingin belajar juga dari teman-teman, adakah perkecualian dalam aturan halal dan haram, untuk sesuatu yang sangat kita butuhkan untuk alasan kesehatan seperti dalam kasus vaksin ini?

Ah, dengan mencermati berita-berita dari Indonesia, saya jadi tergerak buat belajar lebih banyak lagi. Setelah minggu lalu "terpaksa" belajar tentang UU ITE dan UU Perlindungan Anak karena kasus Ibu Prita vs. RS. OMNI dan Manohara vs. Pangeran Fakhry, tampaknya minggu ini saya harus belajar tentang dalil halal dan haram vs. layanan kesehatan, dan tentang betapa ironisnya, sesuatu yang dibutuhkan sebagai pembuka jalan untuk ibadah, ternyata tak diteliti dulu kehalalannya oleh pemerintah...
Atau, adakah yang punya informasi tambahan/lanjutan tentang kasus ini?
Terimakasih...


Berikut berita selengkapnya dari MSN Indonesia:
http://news.id.msn.com/local/okezone/article.aspx?cp-documentid=3363125

MUI: Vaksin Meningitis Haram
JAKARTA - Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya mengharamkan vaksin meningitis yang wajib digunakan bagi calon jamaah haji dan umrah.

Ketua MUI Amidhan mengatakan, keputusan itu merupakan hasil pertimbangan dan analisis dari anggota Komisi Fatwa MUI. Dari analisis itu dinyatakan bahwa proses pembuatan vaksin meningitis bermerek "Mencevax ACWY" tersebut menggunakan enzim babi.

"Keterangan yang paling kuat itu disampaikan Departemen Kesehatan (Depkes) yang mempertegas bahwa vaksin tersebut mengandung enzim babi," tegas Amidhan ketika dihubungi Seputar Indonesia di Jakarta kemarin.

Dengan adanya ketetapan ini, terang Amidhan, MUI membatalkan rencana pergi ke Belgia guna menyaksikan langsung proses pembuatan vaksin meningitis tersebut. "Tidak ada lagi yang mau dibuktikan. Jadi, kami urungkan niat ke Belgia,"katanya.

Sebelumnya diberitakan, penelitian Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Sumatera Selatan (Sumsel) menemukan kandungan vaksin meningitis yang mengandung enzim babi.

Padahal, vaksin meningitis harus diberikan kepada setiap calon jamaah haji atau umrah melalui Nota Diplomatik Duta Besar (Dubes) Arab Saudi di Jakarta No.211/94/71/577 tanggal 1 Juni 2006.

Surat itu menyatakan, Pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap calon jamaah umrah, haji, dan tenaga kerja Indonesia (TKI) mendapat imunisasi meningitis sebagai syarat untuk mendapatkan visa. Atas dasar surat itu, Pemerintah Indonesia kemudian mewajibkan semua calon jamaah haji dan umrah untuk disuntik vaksin meningitis.

Untuk kepentingan ini, pemerintah kemudian menggunakan vaksin bermerek Mencevax ACWY yang diproduksi oleh PT GlaxoSmithKline Beecham Pharmaceuticals (GSK) dari Belgia.Perusahaan tersebut sebenarnya telah mengirim surat ke Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) Depkes.

Dalam suratnya, perusahaan itu menyatakan bahwa produknya sudah tidak mengandung enzim babi. Enzim babi, sebut perusahaan itu dalam suratnya, hanya digunakan dalam proses awal pembuatan vaksin meningitis.

Setelah itu dihilangkan, sehingga produk akhir vaksin tidak lagi mengandung unsur babi. Bahkan, Mencevax ACWY formula baru ini telah mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 6 April 2009. Atas keterangan ini,Amidhan menyatakan, MUI masih ragu atas klaim tersebut.

"Tidak mungkin tidak mengandung babi kalau mediasinya menggunakan enzim babi," tegasnya.

Lebih lanjut Amidhan mengatakan, MUI akan menemui Dubes Arab Saudi di Indonesia untuk mempertanyakan alasan diwajibkannya pemberian vaksin meningitis bagi jamaah haji.

Jika pemberian vaksin itu merupakan kewajiban yang tidak bisa dihindari, kata dia, Komisi Fatwa akan bersidang kembali untuk menetapkan fatwa selanjutnya. Amidhan juga mendesak pemerintah segera mengusahakan alternatif vaksin meningitis jenis lain sebagai penggantinya.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama (Depag) Abdul Ghafur Djawahir mengatakan, pihaknya hanya menunggu keputusan akhir MUI dan Depkes terkait penggunaan vaksin meningitis tersebut. Sebab, menurut dia, pemberian vaksin merupakan wewenang Depkes.

"Depag hanya menunggu kesepakatan MUI dan Depkes. Karena persoalan perusahaan pembuat vaksin, yaitu PT GSK merupakan kewenangan Depkes.Setelah mendapatkan hasil, baru dikoordinasikan dengan kita,"terangnya.

Sementara itu, Koordinator Forum Reformasi Haji Indonesia (FOR Haji) Ade Marfuddin, mengatakan fatwa haram mengenai vaksin meningitis belum cukup. Dia meminta MUI untuk membuat fatwa yang benar sesuai dengan fakta.

Ade menambahkan jika fatwa tersebut harus mengarah ke darurat, maka MUI harus menjelaskan alasannya. "Jika seperti itu harus ada batas waktunya disertai dengan catatan perbaikan dan mencari alternatif vaksin berbahan lain," terangnya. ***