
H1N1 (gambar diambil dari sini)
"Jangan menyerah!"
"Ayo Asriiii... kamu bisa!"
"Kalau kali ini gagal ya coba lagi sampai bisa..."
"Ayo Asriiii... kamu bisa!"
"Kalau kali ini gagal ya coba lagi sampai bisa..."
Itulah kata-kata yang sering kuucapkan untukku sendiri.
Sahabat-sahabatku, dan keluargaku pasti tahu kalau aku ini cukup keras kepala, alias “ndableg” dalam Bahasa Jawa. Selain ndableg, aku ini juga paling sering sakit di keluarga. Sakitnya aneh-aneh pula: mulai dari seringsemaput, pingsan saat masih SMP dan saat kelas 3 SMA – yang kata dokter akibat hipotensi postural, sakit dada, sakit cacar saat umur 21 tahun, diopname karena Rubella saat berumur 22 tahun, migren berkepanjangan, gangguan ginjal saat umur 23 tahun (dan belakangan baru tahu kalau itu akibat mengkonsumsi obat-obat keras saat kena cacar dan rubella), trachea bronchitis selama tinggal di Aceh, dan mungkin yang paling ngeri adalah didiagnosa kena myocardiac infraction (MI) alias serangan jantung menjelang ulang tahunku yang ke-29.
Tapi… hohoho… ternyata MI (yang belakangan diragukan diagnosanya oleh dokter lain di sebuat RS ternama di Semarang) itu belum apa-apa, Oktober tahun ini aku didiagnosa terkena pericardisis – peradangan dinding jantung. Belum sembuh dari pericarditis, aku juga terinfeksi H1N1, alias terkena Swine Flu, atau yang beken di media Indonesia sebagai flu babi!
Hampir tiga minggu aku terkapar di tempat tidur, kehilangan 4 kilogram berat badanku, dan total tagihan rumah sakit plus dokter plus biaya-biaya periksa – termasuk periksa EKG, tes darah dan rontgen, mencapai lebih dari $ 4,800. Untung hampir semuanya ditanggung asuransi. Kalau ngga, mungkin aku lebih sakit lagi… hehehe.. Minggu-minggu di bulan Oktober dan November adalah minggu-minggu penting dalam kehidupan mahasiswa di sini. Kenapa? Karena kita mulai dihajar ujian mid semester dan tumpukan tugas akhir yang bertubi-tubi. Sebagai mahasiswa pasca sarjana di jurusan komunikasi, aku dituntut untuk banyak menulis dan melakukan presentasi. Semester Musim Gugur 2009 ini adalah semester terberat. Banyaaaaaakk banget tugas menulis!
Kalau kuhitung-hitung semester ini rasanya aku sudah memproduksi lebih dari 300 halaman. Bayangkan saja, untuk satu kelas aku harus menulis memo mingguan (cuma 1 halaman, gampang…, 12 kelas x 1 = 12), 4 essay (masing-masing 3 – 5 halaman, aku selalu menulis 5 halaman karena kebanyakan ide…, maka 4x5 = 20), 1 mid-term essay (8 halaman), 1 handout presentasi (5 halaman), 1 research paper (25 halaman), dan 1 final paper (8 halaman). Itu baru untuk SATU kelas. Untuk menulis dengan baik, kita perlu mempelajari bahan-bahan bacaan yang ditugaskan. Rata-rata panjang bacaan untuk satu kelas PER MINGGU adalah 100 sampai 150 halaman. Dan, semester ini aku ambil 4 kelas… Kalikan saja jumlah bacaannya, belum lagi tugas-tugasnya. Jadi, siapa bilang kuliah di sini isinya seneng-seneng doang? :)
Bagaimana cara menyiasatinya? Buatku ngga ada cara lain selain membaca non-stop, dan Jumat-Sabtu-Minggu biasanya adalah hari bikin PR. Jam tidurku berantakan. Aku selalu tidur di atas jam 4 pagi, bangun sekitar jam 10 pagi dan kerja lagi. Beberapa orang yang ngga pengertian menyebutku sombong karena aku jarang ikut kumpul-kumpul atau selalu susah dihubungi. Gimana mau ikut kumpul-kumpul kalau hari Sabtu – Minggu aja aku masih tidur jam 4 pagi demi tugas kuliahku? Gimana mau ngga susah ditelpon kalau seringkali aku belajar di perpustakaan dan HPku dalam silent mode?
Ada juga yang tanya: katanya belajar, kok FBnya aktif terus sih? Lha justru itu, karena aku ngadepin laptop sehari semalam, FB dan email-lah yang jadi sarana komunikasi dan hiburan utamaku. Statusku selalu update, dan selalu ada wallpost – tapi aku memang jarang ngebalas email. Pernah juga ada yang komentar di status FB-ku: “kebiasaan kebut semalam kaya di Indonesia ya?” – Hm, sebenernya pengen marah aja ke orang itu, ngga tau gimana aku kerja keras kok enak aja ngomong begitu. Karena marah ngga ada gunanya, mending energimarahnya dilampiaskan ke paperku aja…. Ciaaattttt – ciaattt – ciattttt!!! (eh, salah, harusnya ngelus dada, dan bilang, “sabar Asri, sabaaaaarrrr….”)
Nah, dengan ritme kejar tayang non-stop seperti itu, kebayang kan kalau pake sakit segala? Sebelum terdiagnosa pericarditis aku masih sibuk nyiapin research paper untuk kelas Interpersonal Communication. Wuih, aku semangat banget ngerjainnya, karena aku berniat ngenalin unggah-ungguh basa Jawa ke profesorku, sekaligus faktor spiritual di balik praktek budaya kita. Tiba-tiba “deg”. Dadaku sakit banget. Aku ingat, waktu itu sekitar jam 3 pagi dan aku lagi membungkuk untuk ngidupin pemanas ruangan. Dua hari berikutnya sakit itu datang dan pergi. Hari ketiga aku ngga tahan lagi. Sakitnya menusuk-nusuk sampai satu jam lebih dan aku kesulitan bernafas. Setelah reda aku menelfon mbak Titi, pahlawan penyelamatku di Albany. Secepatnya mbak Titi, bang Taufik dan Uda Fitri memutuskan untuk melarikan, eh membawaku ke Ruang Gawat Darurat di RS St. Peter. Anibal menyusul, naik sepeda dari rumahnya, padahal hari itu suhu sudah di bawah 10*C. Heroik dan romantis deh! :))
Dasar aku ini si ndableg, malam itu aku nangisnya lebih karena sebel, bukan karena sakit. Aku sebel banget karena harus pake sakit seperti itu di saat lagi banyak banget kerjaan. Aku juga sedih karena merasa masih muda (yeaaaahh…) tapi kok ngga sehat. Di mobil Uda Fitri, dalam perjalanan ke RS aku nangis lagi karena beliau memutar lagu-lagu Opick yang bikin aku terharu. Di RGD ternyata ada unit khusus untuk kedaruratan stroke dan penyakit jantung. Isinya opa-opa dan oma-oma… dan aku adalah pasien termuda. Proses pemeriksaannya banyak dan lamaaaaaa… banget. Bang Taufik, Mbak Titi, dan Uda meninggalkan RS sekitar jam 2 pagi.
Jam 4 pagi dokter datang dengan wajah capek. Katanya, EKG-ku normal tapi tes darahku menunjukkan kalau cardio enzyme-ku positif (kata pak dokter kiyut itu, cardio enzyme adalah enzim yang diproduksi jantung saat ada kerusakan jaringan di sana). Duh. Nangis lagi deh. Tapi dikit kok.. haha… kali ini karena kesel, berharap pengen buruan pulang dan tidur nyenyak, tapi disuruh tinggal lebih lama di UGD untuk pemeriksaan lanjutan. Jam 9 pagi pak dokter datang lagi. Hasilnya, cardio enzyme-ku tetep positif. Berarti memang ada gangguan jantung. Beliau bilang aku diduga kena pericarditis. Sejak hari itu selama sebulan pertama aku harus bertemu spesialis jantung seminggu sekali.
Apakah aku beristirahat? Tidak. Sabtu, jam 10 pagi itu aku “dilepas” dari UGD. Setelah tidur sesiangan, sorenya aku ikut dinner ulang tahun Anibal. Setelah dinner, aku berangkat ke kampus bareng Gloria dan Charlie, menghadiri pidato Jenderal Colin Powell. Dua acara itu sudah kurencanakan sebulan sebelumnya. Malamnya aku begadang lagi, ngerjain research paperku yang 25 halaman itu, yang harus dikumpulkan hari Selasa… Mungkin banyak yang sebel membaca paragraf ini. Tapi begitulah caraku menghadapi penyakit-penyakitku. Aku ngga suka merasa lemah dan aku ngga suka merasa sedih. Saat SMA dulu aku sampai diwanti-wanti Wingit, teman sebangku kesayanganku, untuk ngga nahan-nahan sakit dan buruan ke UKS sebelum pingsan di depan kelas.
Hari Senin – Selasa aku berangkat kuliah. Rabu aku demam tinggi, tapi tetep maksain belajar untuk ujian hari Kamisnya. Di buku metodologi riset itu aku menulis catatan, “jangan sakit Asri…” Untung Kamis aku merasa mendingan dan melalui ujianku dengan baik, Jumat aku ke Schenectady yang satu jam dari Albany untuk nonton Shaolin Kungfu, dan demam tinggi lagi malam harinya. Sabtu sendi-sendiku ngilu, mual, demam dan sakit tenggorokan sampai nyaris ngga bisa bangun dari tempat tidur. Aku benar-benar hampir K.O. sampai tak sanggup lagi berangkat kuliah. Aku juga batuk tak henti-henti. Sakit dadaku jadi berlipat ganda deh. Rabu aku ke pusat kesehatan Universitas, dan setelah serangkaian pemeriksaan dokter bilang kalau aku POSITIF TERINFEKSI H1N1.
Aku bengong. Jadi ternyata sakitku parah ya? Untung hasil X-ray menunjukkan kalau aku tidak menderita radang paru. Tapiiii… hasil X-ray itu juga menunjukkan kalo trachea bronchitisku kambuh lagi. Waduh. Ngga tanggung-tanggung, dokter menulis surat keterangan yang ditujukan untuk DEKAN Pasca Sarjana di Universitasku, meminta untuk menyampaikan pesan kepada para profesorku, bahwa aku perlu setidaknya 17 hari istirahat, untuk mengurangi kemungkinan penularan virus jahat itu ke teman-teman dan orang-orang di kampus. Aku juga diharuskan mengkarantina diri di kamar, mengurangi kontak dengan keluarga atau teman-teman serumahku. Negara bagian New York memang sudah memberlakukan keadaan darurat epidemic Swine Flu, segera setelah Presiden Obama mengumumkan darurat nasional. Sebetulnya dalam keadaan darurat itu surat keterangan dokter tidak diperlukan. Pokoknya, selama kita merasa terserang flu, kita dianjurkan untuk tinggal di rumah dan mengurangi kontak dengan orang lain. Dengan pengobatan yang benar, banyak minum, istirahat yang cukup dan nutrisi yang baik sebetulnya Swine Flu bisa disembuhkan. Tapi kasusku agak beda. Tubuhku harus berjuang ekstra keras melawan virus H1N1, sekaligus virus yang menyebabkan peradangan di jantungku sekaligus....
Akhirnya, si ndableg ini menyerah. Berhari-hari aku terbaring di kamar. Aku benar-benar merasakan beratnya penyakit ini… minggu pertama terkena Swine Flu itu aku sering berhalusinasi karena demam tinggi. Sendi-sendiku ngilu sampai untuk beranjak ke kamar mandi aja beratnya bukan main. Suatu siang, saat tubuh ini terasa sakit dan lemah sekali, aku berbisik, “kula sampun siap menawi Gusti badhe mundhut sak menika…”. Ini adalah sakit terberat yag pernah kualami. Aku menyerah. Tumpukan buku dan artikel yang harus kubaca kubiarkan terserak di meja belajar. Aku tak mau menyentuhnya. Rasanya baru kali itu aku tidak keras kepala.Aku cuma mau sehat lagi.
Saat merasa sangat lemah itu aku baru sadar aku telah banyak memaksa diri. Membawa tubuhku yang masih perlu istirahat ini melampaui batas-batas kesanggupan. Aku baru sadar bahwa aku sangat kurang tidur. Aku baru merasa sangat lelah. Otakku penuh simpang siur analisa teori komunikasi, deadline tugas dan ide-ide disertasi. Aku lupa memikirkan apa yang sebenarnya membuatku bahagia. Di saat yang sama, ada rasa damai yang menyenangkan: aku pasrah dan menerima. Aku sadar, satu setengah tahun di sini telah memberiku banyak ujian kesabaran, dan aku baru tersadar, bahwa aku telah menjadi jauhhhhh…lebih sabar dan tenang menghadapi masalah-masalahku. Perasaan itu sangat indah.
Profesor-profesorku rajin mengirim email, menanyakan keadaanku dan berpesan bahwa aku tak perlu memikirkan kuliahku. “Pikirkan kesehatanmu dulu. Setelah kamu sembuh kita bisa membahas hal-hal lainnya”. Anibal rajin menjenguk dan membawakan makanan kesukaanku (meski ujung-ujungnya dia juga yang ngabisin.. hehehe..). Teman-teman serumahku rajin menawariku teh hangat dan menyemprotkan Lysol di sekitar rumah. Aku bersyukur memiliki mereka di sekitarku, dan aku lebih bersyukur lagi karena mereka tidak tertular penyakitku…
Di minggu kedua aku memutuskan menghentikan obat-obatan dari para dokterku. Obat-obatan penghilang rasa sakitku memiliki kandungan narkotika dan batukku tak kunjung reda. Yang ada aku merasa seperti zombie, berkepala kosong, merasa melayang dan tak terkoneksi dengan apapun di sekitarku. Aku memutuskan beralih ke obat-obatan organic, yang alhamdulillah bisa kutemukan di Coops dekat rumahku. Aku berangsur sembuh. Minggu ketiga Karen, teman serumahku membawaku ke pantai di Long Beach City di Long Island. Katanya, “udara laut akan bikin kamu cepet sembuh!”.
Aku kehilangan 4.5 kilogram dalam 3 minggu itu. Berat badanku semula 46.5 kilo. Di kunjungan terakhir ke dokter sebelum aku masuk kuliah lagi beratku tinggal 42 kilo. Mukaku lebih tirus, mataku cekung, rambutku rontok dan tak mengembang. Teman-teman sekelasku yang tak terlalu akrab, yang telah mendengar apa yang kualami takut-takut berdekatan denganku. Mereka bertanya apakah H1N1 telah pergi dari tubuhku. Dua profesorku memelukku saat melihatku kembali ke kelas. Aku kembali tersadar bahwa sekali lagi aku mengalami peristiwa besar di hidupku. Aku berhasil melewati masa kritis Swine Flu.
Saat itu aku sudah ketinggalan banyak pelajaran, dan bahkan aku tak mau lagi membahas berapa essay yang kulewatkan. Awal Desember aku mulai mati-matian mengejar ketinggalanku. Berhari-hari aku cuma tidur 3-4 jam setiap harinya demi menyelesaikan tugasku. Ternyata susah juga menulis essay tanpa mengikuti pembahasan di kelas…. Aku pun kembali menjadi si ndableg pekerja keras. Aku semakin sadar kalau aku ini pejuang yang serius. Saat dunia bilang aku cukup memberi 100, aku akan memberi minimal 110. Sederhana: karena aku merasa senang melakukan itu.
Ngomong-ngomong, orang Amrik mungkin tak akan menyebut sikap ndablegku ini sebagai stubbornness, tapi lebih sebagai persistence dan self-determination: keuletan dan kemauan yang keras. Sikap ndablegku inilah yang jadi salah satu amunisi penting untuk perjuangan hidupku. Sejak bapak meninggal 18 tahun yang lalu, rasanya ndableg-ness inilah yang membantuku untuk melewati segala hambatan, rintangan dan tantangan hidup dan mewujudkan mimpi-mimpi yang rasanya ngga mungkin dicapai pada saat itu. Ibuku sampai sering menasehatiku agar tidak terlalu sering “nglangak” (menengadah), karena mimpiku sering aneh-aneh dan terlalu besar untuk ukuran status sosial – ekonomi kami.
Tapi kupikir Ibuku tak perlu terlalu khawatir. Si ndableg ini sudah belajar tentang batas-batas toleransi kendablegan. Dan, batas terbesarku adalah diriku, kesehatanku, dan kesadaranku sendiri…
Sahabat-sahabatku, dan keluargaku pasti tahu kalau aku ini cukup keras kepala, alias “ndableg” dalam Bahasa Jawa. Selain ndableg, aku ini juga paling sering sakit di keluarga. Sakitnya aneh-aneh pula: mulai dari sering
Tapi… hohoho… ternyata MI (yang belakangan diragukan diagnosanya oleh dokter lain di sebuat RS ternama di Semarang) itu belum apa-apa, Oktober tahun ini aku didiagnosa terkena pericardisis – peradangan dinding jantung. Belum sembuh dari pericarditis, aku juga terinfeksi H1N1, alias terkena Swine Flu, atau yang beken di media Indonesia sebagai flu babi!
Hampir tiga minggu aku terkapar di tempat tidur, kehilangan 4 kilogram berat badanku, dan total tagihan rumah sakit plus dokter plus biaya-biaya periksa – termasuk periksa EKG, tes darah dan rontgen, mencapai lebih dari $ 4,800. Untung hampir semuanya ditanggung asuransi. Kalau ngga, mungkin aku lebih sakit lagi… hehehe.. Minggu-minggu di bulan Oktober dan November adalah minggu-minggu penting dalam kehidupan mahasiswa di sini. Kenapa? Karena kita mulai dihajar ujian mid semester dan tumpukan tugas akhir yang bertubi-tubi. Sebagai mahasiswa pasca sarjana di jurusan komunikasi, aku dituntut untuk banyak menulis dan melakukan presentasi. Semester Musim Gugur 2009 ini adalah semester terberat. Banyaaaaaakk banget tugas menulis!
Kalau kuhitung-hitung semester ini rasanya aku sudah memproduksi lebih dari 300 halaman. Bayangkan saja, untuk satu kelas aku harus menulis memo mingguan (cuma 1 halaman, gampang…, 12 kelas x 1 = 12), 4 essay (masing-masing 3 – 5 halaman, aku selalu menulis 5 halaman karena kebanyakan ide…, maka 4x5 = 20), 1 mid-term essay (8 halaman), 1 handout presentasi (5 halaman), 1 research paper (25 halaman), dan 1 final paper (8 halaman). Itu baru untuk SATU kelas. Untuk menulis dengan baik, kita perlu mempelajari bahan-bahan bacaan yang ditugaskan. Rata-rata panjang bacaan untuk satu kelas PER MINGGU adalah 100 sampai 150 halaman. Dan, semester ini aku ambil 4 kelas… Kalikan saja jumlah bacaannya, belum lagi tugas-tugasnya. Jadi, siapa bilang kuliah di sini isinya seneng-seneng doang? :)
Bagaimana cara menyiasatinya? Buatku ngga ada cara lain selain membaca non-stop, dan Jumat-Sabtu-Minggu biasanya adalah hari bikin PR. Jam tidurku berantakan. Aku selalu tidur di atas jam 4 pagi, bangun sekitar jam 10 pagi dan kerja lagi. Beberapa orang yang ngga pengertian menyebutku sombong karena aku jarang ikut kumpul-kumpul atau selalu susah dihubungi. Gimana mau ikut kumpul-kumpul kalau hari Sabtu – Minggu aja aku masih tidur jam 4 pagi demi tugas kuliahku? Gimana mau ngga susah ditelpon kalau seringkali aku belajar di perpustakaan dan HPku dalam silent mode?
Ada juga yang tanya: katanya belajar, kok FBnya aktif terus sih? Lha justru itu, karena aku ngadepin laptop sehari semalam, FB dan email-lah yang jadi sarana komunikasi dan hiburan utamaku. Statusku selalu update, dan selalu ada wallpost – tapi aku memang jarang ngebalas email. Pernah juga ada yang komentar di status FB-ku: “kebiasaan kebut semalam kaya di Indonesia ya?” – Hm, sebenernya pengen marah aja ke orang itu, ngga tau gimana aku kerja keras kok enak aja ngomong begitu. Karena marah ngga ada gunanya, mending energi
Nah, dengan ritme kejar tayang non-stop seperti itu, kebayang kan kalau pake sakit segala? Sebelum terdiagnosa pericarditis aku masih sibuk nyiapin research paper untuk kelas Interpersonal Communication. Wuih, aku semangat banget ngerjainnya, karena aku berniat ngenalin unggah-ungguh basa Jawa ke profesorku, sekaligus faktor spiritual di balik praktek budaya kita. Tiba-tiba “deg”. Dadaku sakit banget. Aku ingat, waktu itu sekitar jam 3 pagi dan aku lagi membungkuk untuk ngidupin pemanas ruangan. Dua hari berikutnya sakit itu datang dan pergi. Hari ketiga aku ngga tahan lagi. Sakitnya menusuk-nusuk sampai satu jam lebih dan aku kesulitan bernafas. Setelah reda aku menelfon mbak Titi, pahlawan penyelamatku di Albany. Secepatnya mbak Titi, bang Taufik dan Uda Fitri memutuskan untuk melarikan, eh membawaku ke Ruang Gawat Darurat di RS St. Peter. Anibal menyusul, naik sepeda dari rumahnya, padahal hari itu suhu sudah di bawah 10*C. Heroik dan romantis deh! :))
Dasar aku ini si ndableg, malam itu aku nangisnya lebih karena sebel, bukan karena sakit. Aku sebel banget karena harus pake sakit seperti itu di saat lagi banyak banget kerjaan. Aku juga sedih karena merasa masih muda (yeaaaahh…) tapi kok ngga sehat. Di mobil Uda Fitri, dalam perjalanan ke RS aku nangis lagi karena beliau memutar lagu-lagu Opick yang bikin aku terharu. Di RGD ternyata ada unit khusus untuk kedaruratan stroke dan penyakit jantung. Isinya opa-opa dan oma-oma… dan aku adalah pasien termuda. Proses pemeriksaannya banyak dan lamaaaaaa… banget. Bang Taufik, Mbak Titi, dan Uda meninggalkan RS sekitar jam 2 pagi.
Jam 4 pagi dokter datang dengan wajah capek. Katanya, EKG-ku normal tapi tes darahku menunjukkan kalau cardio enzyme-ku positif (kata pak dokter kiyut itu, cardio enzyme adalah enzim yang diproduksi jantung saat ada kerusakan jaringan di sana). Duh. Nangis lagi deh. Tapi dikit kok.. haha… kali ini karena kesel, berharap pengen buruan pulang dan tidur nyenyak, tapi disuruh tinggal lebih lama di UGD untuk pemeriksaan lanjutan. Jam 9 pagi pak dokter datang lagi. Hasilnya, cardio enzyme-ku tetep positif. Berarti memang ada gangguan jantung. Beliau bilang aku diduga kena pericarditis. Sejak hari itu selama sebulan pertama aku harus bertemu spesialis jantung seminggu sekali.
Apakah aku beristirahat? Tidak. Sabtu, jam 10 pagi itu aku “dilepas” dari UGD. Setelah tidur sesiangan, sorenya aku ikut dinner ulang tahun Anibal. Setelah dinner, aku berangkat ke kampus bareng Gloria dan Charlie, menghadiri pidato Jenderal Colin Powell. Dua acara itu sudah kurencanakan sebulan sebelumnya. Malamnya aku begadang lagi, ngerjain research paperku yang 25 halaman itu, yang harus dikumpulkan hari Selasa… Mungkin banyak yang sebel membaca paragraf ini. Tapi begitulah caraku menghadapi penyakit-penyakitku. Aku ngga suka merasa lemah dan aku ngga suka merasa sedih. Saat SMA dulu aku sampai diwanti-wanti Wingit, teman sebangku kesayanganku, untuk ngga nahan-nahan sakit dan buruan ke UKS sebelum pingsan di depan kelas.
Hari Senin – Selasa aku berangkat kuliah. Rabu aku demam tinggi, tapi tetep maksain belajar untuk ujian hari Kamisnya. Di buku metodologi riset itu aku menulis catatan, “jangan sakit Asri…” Untung Kamis aku merasa mendingan dan melalui ujianku dengan baik, Jumat aku ke Schenectady yang satu jam dari Albany untuk nonton Shaolin Kungfu, dan demam tinggi lagi malam harinya. Sabtu sendi-sendiku ngilu, mual, demam dan sakit tenggorokan sampai nyaris ngga bisa bangun dari tempat tidur. Aku benar-benar hampir K.O. sampai tak sanggup lagi berangkat kuliah. Aku juga batuk tak henti-henti. Sakit dadaku jadi berlipat ganda deh. Rabu aku ke pusat kesehatan Universitas, dan setelah serangkaian pemeriksaan dokter bilang kalau aku POSITIF TERINFEKSI H1N1.
Aku bengong. Jadi ternyata sakitku parah ya? Untung hasil X-ray menunjukkan kalau aku tidak menderita radang paru. Tapiiii… hasil X-ray itu juga menunjukkan kalo trachea bronchitisku kambuh lagi. Waduh. Ngga tanggung-tanggung, dokter menulis surat keterangan yang ditujukan untuk DEKAN Pasca Sarjana di Universitasku, meminta untuk menyampaikan pesan kepada para profesorku, bahwa aku perlu setidaknya 17 hari istirahat, untuk mengurangi kemungkinan penularan virus jahat itu ke teman-teman dan orang-orang di kampus. Aku juga diharuskan mengkarantina diri di kamar, mengurangi kontak dengan keluarga atau teman-teman serumahku. Negara bagian New York memang sudah memberlakukan keadaan darurat epidemic Swine Flu, segera setelah Presiden Obama mengumumkan darurat nasional. Sebetulnya dalam keadaan darurat itu surat keterangan dokter tidak diperlukan. Pokoknya, selama kita merasa terserang flu, kita dianjurkan untuk tinggal di rumah dan mengurangi kontak dengan orang lain. Dengan pengobatan yang benar, banyak minum, istirahat yang cukup dan nutrisi yang baik sebetulnya Swine Flu bisa disembuhkan. Tapi kasusku agak beda. Tubuhku harus berjuang ekstra keras melawan virus H1N1, sekaligus virus yang menyebabkan peradangan di jantungku sekaligus....
Akhirnya, si ndableg ini menyerah. Berhari-hari aku terbaring di kamar. Aku benar-benar merasakan beratnya penyakit ini… minggu pertama terkena Swine Flu itu aku sering berhalusinasi karena demam tinggi. Sendi-sendiku ngilu sampai untuk beranjak ke kamar mandi aja beratnya bukan main. Suatu siang, saat tubuh ini terasa sakit dan lemah sekali, aku berbisik, “kula sampun siap menawi Gusti badhe mundhut sak menika…”. Ini adalah sakit terberat yag pernah kualami. Aku menyerah. Tumpukan buku dan artikel yang harus kubaca kubiarkan terserak di meja belajar. Aku tak mau menyentuhnya. Rasanya baru kali itu aku tidak keras kepala.Aku cuma mau sehat lagi.
Saat merasa sangat lemah itu aku baru sadar aku telah banyak memaksa diri. Membawa tubuhku yang masih perlu istirahat ini melampaui batas-batas kesanggupan. Aku baru sadar bahwa aku sangat kurang tidur. Aku baru merasa sangat lelah. Otakku penuh simpang siur analisa teori komunikasi, deadline tugas dan ide-ide disertasi. Aku lupa memikirkan apa yang sebenarnya membuatku bahagia. Di saat yang sama, ada rasa damai yang menyenangkan: aku pasrah dan menerima. Aku sadar, satu setengah tahun di sini telah memberiku banyak ujian kesabaran, dan aku baru tersadar, bahwa aku telah menjadi jauhhhhh…lebih sabar dan tenang menghadapi masalah-masalahku. Perasaan itu sangat indah.
Profesor-profesorku rajin mengirim email, menanyakan keadaanku dan berpesan bahwa aku tak perlu memikirkan kuliahku. “Pikirkan kesehatanmu dulu. Setelah kamu sembuh kita bisa membahas hal-hal lainnya”. Anibal rajin menjenguk dan membawakan makanan kesukaanku (meski ujung-ujungnya dia juga yang ngabisin.. hehehe..). Teman-teman serumahku rajin menawariku teh hangat dan menyemprotkan Lysol di sekitar rumah. Aku bersyukur memiliki mereka di sekitarku, dan aku lebih bersyukur lagi karena mereka tidak tertular penyakitku…
Di minggu kedua aku memutuskan menghentikan obat-obatan dari para dokterku. Obat-obatan penghilang rasa sakitku memiliki kandungan narkotika dan batukku tak kunjung reda. Yang ada aku merasa seperti zombie, berkepala kosong, merasa melayang dan tak terkoneksi dengan apapun di sekitarku. Aku memutuskan beralih ke obat-obatan organic, yang alhamdulillah bisa kutemukan di Coops dekat rumahku. Aku berangsur sembuh. Minggu ketiga Karen, teman serumahku membawaku ke pantai di Long Beach City di Long Island. Katanya, “udara laut akan bikin kamu cepet sembuh!”.
Aku kehilangan 4.5 kilogram dalam 3 minggu itu. Berat badanku semula 46.5 kilo. Di kunjungan terakhir ke dokter sebelum aku masuk kuliah lagi beratku tinggal 42 kilo. Mukaku lebih tirus, mataku cekung, rambutku rontok dan tak mengembang. Teman-teman sekelasku yang tak terlalu akrab, yang telah mendengar apa yang kualami takut-takut berdekatan denganku. Mereka bertanya apakah H1N1 telah pergi dari tubuhku. Dua profesorku memelukku saat melihatku kembali ke kelas. Aku kembali tersadar bahwa sekali lagi aku mengalami peristiwa besar di hidupku. Aku berhasil melewati masa kritis Swine Flu.
Saat itu aku sudah ketinggalan banyak pelajaran, dan bahkan aku tak mau lagi membahas berapa essay yang kulewatkan. Awal Desember aku mulai mati-matian mengejar ketinggalanku. Berhari-hari aku cuma tidur 3-4 jam setiap harinya demi menyelesaikan tugasku. Ternyata susah juga menulis essay tanpa mengikuti pembahasan di kelas…. Aku pun kembali menjadi si ndableg pekerja keras. Aku semakin sadar kalau aku ini pejuang yang serius. Saat dunia bilang aku cukup memberi 100, aku akan memberi minimal 110. Sederhana: karena aku merasa senang melakukan itu.
Ngomong-ngomong, orang Amrik mungkin tak akan menyebut sikap ndablegku ini sebagai stubbornness, tapi lebih sebagai persistence dan self-determination: keuletan dan kemauan yang keras. Sikap ndablegku inilah yang jadi salah satu amunisi penting untuk perjuangan hidupku. Sejak bapak meninggal 18 tahun yang lalu, rasanya ndableg-ness inilah yang membantuku untuk melewati segala hambatan, rintangan dan tantangan hidup dan mewujudkan mimpi-mimpi yang rasanya ngga mungkin dicapai pada saat itu. Ibuku sampai sering menasehatiku agar tidak terlalu sering “nglangak” (menengadah), karena mimpiku sering aneh-aneh dan terlalu besar untuk ukuran status sosial – ekonomi kami.
Tapi kupikir Ibuku tak perlu terlalu khawatir. Si ndableg ini sudah belajar tentang batas-batas toleransi kendablegan. Dan, batas terbesarku adalah diriku, kesehatanku, dan kesadaranku sendiri…
*terimakasih buat sahabat-sahabat baikku....












